Sejarah dan Perkembangan Madrasah

Kalender Masehi & Hijriyah Memuat kalender... SELAMAT DATANG DI WEBSITE MTsS YAYASAN PERAMA TUTALLU TERIMA KASIH

Madrasah Tsanawiyah Yayasan Perama Tutallu dilatar belakangi kepedulian tokoh masyarakat, tokoh pendidik dan tokoh Agama terhadap pendidikan, terutama kebutuhan pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama yang bernafaskan Islam. Pada tanggal 2 Januari 1970 didirikanlah Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) Yayasan Perama Kecamatan Tutallu, yang kemudian dirubah menjadi MTs. Yayasan Perama Tutallu pada tanggal 1 Agustus 1989 dengan status terdaftar pada Departemen Agama RI.
Adapun Tokoh-tokoh yang memprakarsai berdirinya MTs. Yayasan Perama Tutallu ini antara lain:

Tuan Atjo Daeng Tjora
H.M. Asikin
Hasan Usman
Drs. Munarfa Atjo, SH
H. Djuaeni Abdullah
M. Dahlan
Drs. Habil Amir
Drs. Muchlis Hannan
H. St. Ruwaedah Arief
Nurdin Hamma
Drs. Dahlan Tunggalang, dan
Ahmad KS

Pada awal berdirinya, gedung MTs. Yayasan Perama Tutallu sangat sederhana, semuanya terbuat dari kayu, namun demikian, berkat kegigihan Kepala Madrasah bapak Ahmad KS. dengan melakukan pendekatan ke berbagai pihak, tahun 2005 MTs. Yayasan Perama Tutallu mendapat bantuan gedung dua RKB dan ruangan Kantor.
Pada masa tersebut memang adalah masa-masa perjuangan yang gigih untuk memantapkan eksistensi madrasah, karena masih dihadapkan kepada pencitraan madrasah yang kurang menguntungkan dari masyarakat. Masyarakat memandang bahwa madrasah lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama dan kurang mengajarkan ilmu-ilmu umum. Padahal komposisi kurikulum di madrasah juga menyediakan ilmu-ilmu “umum”, bahkan komposisinya mencapai kurang lebih 70% dan ilmu-ilmu “agamanya” 30%.Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa alokasi pelajaran umum yang 70% tersebut kuantitas dan kualitasnya sama dengan seluruh pelajaran yang ada di sekolah umum. Dengan kata lain pelajaran umum yang 70% sama kuantitas dan kualitasnya dengan pelajaran umum 100% di sekolah umum. Sedangkan yang 30% adalah tambahan pelajaran agama yang terjabarkan secara rinci ke dalam 5 bidang pelajaran agama, yaitu Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqh, dan Bahasa Arab. Dengan kata lain, madrasah sebenarnya adalah sekolah plus.
Namun demikian, gambaran seperti ini tampaknya belum sepenuhnya dimengerti oleh masyarakat. Masyarakat masih memahami bahwa madrasah kurang memperhatikan pengajaran ilmu-ilmu umum dan lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama. Nah, gambaran yang kurang menguntungkan inilah yang terus-menerus ingin diluruskan oleh para pejuang awal MTs. Yayasan Perama Tutallu, baik oleh Pengurus Yayasan, kepala madrasah maupun oleh guru-guru-nya. Mereka tidak henti-hentinya melakukan sosialisasi tentang madrasah dan memberikan gambaran serta pemahaman yang benar tentang madrasah, baik melalui mesjid-mesjid pada hari jum’at, kegiatan madrasah, pertemuan dengan orang tua siswa, dan sebagainya.
Alhamdulillah, berkat perjuangan yang tidak mengenal lelah, sejak tgahun 2010 MTs. Yayasan Perama Tutallu mulai dikenal dan dipahami secara proporsional oleh masyarakat. Sehingga dari tahun ke tahun, animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah semakin bertambah, terbukti sejak tahun 2010 sampai sekarang jumlah pendaftar rata-rata 30 -60 siswa, yang sebelumnya paling banyak 20 pendaftar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *